40 tahun Hari Bumi – how green am I?
// April 30th, 2010 // No Comments » // lingkungan
Lahirnya Hari Bumi
Hari Bumi pertama kali diperingati pada tanggal 22 April 1970 dan momen tersebut merupakan titik awal dimulainya sebuah pergerakan baru, yaitu “Revolusi Hijau”. Saat itu, ratusan ribu orang dan tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah berpartisipasi dalam unjuk rasa di Fifth Avenue, New York, Washington.
Pencanangan Hari Bumi ini sebenarnya diawali oleh pidato Senator Gaylord Nelson dari Wisconsin, Amerika Serikat, yang mengusulkan agar diberlakukannya secara nasional apa yang disebut “teach in”, yaitu sesi kuliah tambahan yang membahas tema-tema kontroversial yang sedang hangat, khususnya tema lingkungan hidup. Ternyata masyarakat menyambut baik ide ini, sehingga gerakan lingkungan benar-benar semarak, dan timbul arus gerakan yang lebih besar dalam mendesak kalangan politisi dan pemerintah Amerika Serikat untuk memperhatikan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup.
Biodata Singkat Planet Bumi
Luas permukaan bumi adalah 510 juta km2 yang terdiri dari :
Luas daratan : 149 juta km2 (29%)
Luas laut dan samudera : 361 juta km2 (71%)
Isi bumi : 1.083.230 juta km2
Berat bumi : 5.976 juta juta juta ton
Tempat tertinggi : Puncak Everest (8848 m diatas permukaan laut)
Tempat terdalam : Palung Mariana (11.035 m dibawah permukaan laut)
Suhu inti bumi : 5000 0C.
Tekanan pada inti bumi : 3,5 juta atm
Jari-jari pada equator : 6378,1 km
Jari-jari pada kutub : 6356,8 km
Bumi, Makin Tua Makin Terbebani
Keserakahan dan egoisme manusia yang telah berlangsung selama berabad-abad dan semakin hari semakin parah saja tingkat keserakahannya, telah membuat Planet Bumi semakin terbebani di hari tuanya.
Bumi Terbebani oleh Jumlah Penduduk
Tahun 1820 sebanyak 1 miliar orang
Tahun 1930 sebanyak 2 miliar orang
Tahun 1960 sebanyak 3 miliar orang
Tahun 1976 sebanyak 4 miliar orang
Tahun 1987 sebanyak 5 miliar orang
Diperkirakan pada tahun 2016 jumlah penduduk bumi akan sebanyak 8 miliar orang. Jumlah tersebut sangat tidak seimbang dengan luas daratan yang hanya seluas 149 juta km2 dan hal tersebut dapat mengakibatkan timbulnya ”multi masalah” kehidupan seperti perumahan, kesehatan, pangan, kemiskinan, lapangan kerja, lingkungan, peperangan, dan lain-lain.
Meningkatnya Jumlah Bahan Beracun Berbahaya
Menurut UNEP (United Nation Environment Program – Badan di PBB yang menangani masalah program lingkungan hidup), limbah B3 (bahan beracun berbahaya) yang dihasilkan oleh berbagai sisa industri pertahunnya mencapai jumlah 400 juta ton. Limbah-limbah tersebut sebagian besar mengalami perpindahan dari negara-negara industri ke negara-negara yang sedang berkembang yang belum mempunyai peraturan ketat masalah limbah B3, termasuk negara kita tercinta, Indonesia.
Dalam hal perdagangan B3 ini, nasib Indonesia sangat ironis sekali, dimana hanya karena sejumlah uang, pemerintah Indonesia rela dan ikhlas menyerahkan negaranya yang merupakan paru-paru dunia untuk dikotori oleh limbah-limbah kiriman dari negara-negara industri.
Adapun yang termasuk dalam golongan B3 ini adalah bahan-bahan yang: beracun, bahan peledak, bahan mudak terbakar/menyala, bahan oksidator dan reduktor, bahan mudah meledak dan terbakar, gas bertekanan, bahan korosif/imitasi, bahan radioaktif, dan bahan-bahan lain yang telah ditetapkan oleh peraturan Menteri Perindustrian. Maka itu hati-hatilah dalam mengkonsumsi atau memperlakukan suatu benda.
Beban Gas CO2 yang selangit
Gas CO2 yang merupakan salah satu gas rumah kaca, yaitu gas yang menyebabkan meningkatnya suhu bumi dan hingga saat ini pelepasan Gas CO2 terus bertambah tanpa terkendali. Lebih dari 90% Gas CO2 yang berada di atmosfir dihasilkan oleh negara-negara industri yang berada di benua Amerika dan Eropa. Amerika Utara rata-rata melepas lebih dari 5 ton karbon ke udara setiap tahunnya, sedangkan Eropa atau Jepang melepas antara 2 hingga 3 ton, China 0,6 ton, serta India 0,2 ton.
Suhu bumi yang terus meningkat.
Meningkatnya suhu bumi membuat gunung-gunung es yang berada di kutub utara dan selatan mencair. Kondisi tersebut membuat bumi semakin sulit untuk memantulkan kembali panas matahari yang menerpa bumi, karena salah satu fungsi dari lapisan es di kutub adalah untuk memantulkan kembali pancaran panas tersebut.
Selain melemahnya kemampuan bumi untuk memantulkan terpaan panas matahari, mencairnya es-es di kutub juga mengakibatkan meningkatnya volume air laut dan hal tersebut mengakibatkan air yang berada dilautan akan lebih banyak menguap ke udara dan uap air termasuk gas rumah kaca. Sehingga lebih banyak lagi pemanasan yang akan terjadi.
Penipisan Lapisan Ozon
Aktivitas manusia memberikan kontribusi terbesar dalam menghasilkan gas-gas pencemar yang kehadirannya sangat mengancam keutuhan ozon. Gas-gas tersebut antara lain: CO2 (banyak dihasilkan dari sisa pembakaran minyak bumi), CFC (digunakan sebagai bahan pendingin), Halon,N2O dan Methan (CH4).
Kondisi Hutan yang semakin memprihatinkan
Di daerah tropis dari zaman pra pertanian sampai dengan saat ini penggundulan hutan yang terjadi adalah sebesar 0,48 juta km2, yaitu “cuma” 1/13 dari luas penggundulan hutan yang terjadi di daerah non tropis. Di daerah non tropis penggundulan hutan mencapai kurang lebih 6,24 juta km2, padahal kita semua tahu hutan adalah paru-paru bumi.
Pencemaran laut yang membuat bumi keracunan
Sejak tahun 1967, lebih dari 2 juta ton minyak tumpah ke laut akibat kecelakaan maupun kebocoran tanker, perang, dan sebagainya. Minyak sering terkumpul di pantai, tempat penting bagi siklus kehidupan penghuni laut.
Data dari Greenpeace Internasional (sebuah LSM internasional yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup dengan model gerakan-gerakan yang militan dan radikal), setiap tahunnya laut di bumi ini kemasukan berbagai racun dalam jumlah yang sangat besar, yaitu:120.000 ton minyak, 12.000 ton fenol (yaitu bioakumulatif substansi racun organik), 60.000 ton deterjen, 100 ton merkuri, 3800 ton lead, dan 3600 ton phospor.
Akibat Keserakahan Manusia
Keserakahan manusia yang semakin menggila telah mengakibatkan hilangnya ”penghuni” bumi dalam jumlah yang sangat besar.
Berkurangnya jumlah spesies di Bumi. Menurut data dari WWF, sebuah LSM internasional yang bergerak dalam bidang pelestarian keanekaragaman hayati, setiap harinya di planet ini 50 sampai 100 jenis spesies makhluk hidup lenyap dari muka bumi.
Berkurangnya jumlah hutan. Kurang lebih 10.000 tahun yang lalu, sebelum ada pertanian di muka bumi ini, diperkirakan planet ini diliputi hutan dan rimba seluas 6,2 milyar hektar. Namun, di tahun 1989 jumlah hutan tersebut sudah semakin berkurang hingga 4,1 milyar hektar. Di Indonesia tercinta sendiri, hutan-hutan tropis nan eksotis yang seharusnya diwariskan kembali ke anak cucu kita jumlahnya terus berkurang, antara 6000 sampai 10000 km2/ tahun. Ini belum termasuk penggundulan akibat kebakaran hutan.
Mulailah ”Gaya Hidup Hijau”
Saatnya bagi manusia untuk memberikan kembali apa-apa yang telah dirampas dariBumi tercinta ini dan mari mulai menerapkan ”gaya hidup hijau” dan jadikan bumi yang lebih aman, nyaman dan damai untuk kita tinggali bersama.
Gaya Hidup Hijau di Rumah
Hemat energi
- Matikan semua alat elektronik saat tidak digunakan. Kerlip merah penanda standby menunjukkan alat tersebut masih menggunakan listrik. Artinya Anda terus berkontribusi pada pemanasan global.
- Pilihlah perlengkapan elektronik serta lampu yang hemat energi.
- Saat matahari bersinar hindari penggunaan mesin pengering, jemur dan biarkan pakaian kering secara alami.
Hemat air
- Matikan keran saat sedang menggosok gigi.
- Gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman.
- Segera perbaiki keran yang bocor – keran bocor menumpahkan air bersih hingga 13 liter air per hari.
- Jika mungkin mandilah dengan menggunakan shower. Mandi berendam merupakan cara yang paling boros air.
Hemat kayu dan kertas
- Selalu gunakan kertas di kedua sisinya.
- Gunakan kembali amplop bekas.
Kurangi, pakai lagi dan daur ulang (Reduce, Reuse and Recycle)
- Bantulah mengurangi tumpukan sampah dunia
- Jangan gunakan produk ‘sekali pakai’ seperti piring dan sendok kertas atau pisau, garpu dan cangkir plastik.
- Gunakan baterai isi ulang.
- Pilih kalkulator bertenaga surya.
- Simpan makanan dalam wadah keramik.
Gaya Hidup Hijau di Tempat Kerja
- Gunakan transportasi publik, sepeda atau berjalan kaki daripada menggunakan mobil untuk berangkat ke kantor.
- Jika anda berkendara untuk berangkat kerja, cobalah untuk berangkat bersama-sama dengan kolega yang tinggal berdekatan atau sejalan kebijakan personal.
- Atur printer anda untuk mencetak di kedua sisi kertas.
- Gunakan email jika memungkinkan, daripada menggunakan mesin fax atau tulisan tangan.
- Gunakan kembali amplop bekas.
- Recycle kertas bekas pakai.
- Matikan lampu ruang meeting dan matikan komputer serta alat elektronik lainnya jika tidak digunakan.
Gaya Hidup Hijau Saat Berbelanja - Pilihlah produk segar secara hati-hati
- Beli bahan-bahan makanan organik. Proses penanaman bahan-bahan makanan non-organik menggunakan bahan kimia berbahaya seperti pestisida, yang dapat mencemari jalan air dan seluruh lingkungan sekitar.
- Beli buah-buahan dan sayuran yang sedang musim untuk mengurangi biaya transportasi yang berlebihan untuk mengimport barang-barang tersebut. Jika memungkinkan, belilah bahan makanan produksi lokal.
Kurangi sampah dan polusi, hematlah energi
- Jangan membeli produk dengan kemasan berlebihan, dan jika memungkinkan pilihlah produk yang
- menggunakan wadah pakai ulang
- Belilah produk daur ulang atau produk yang dapat di daur ulang, misalnya tisu toilet dan alat-alat tulis,
- Jika anda pergi ke supermarket dengan menggunakan mobil, ajaklah teman anda – perjalanan dengan satu mobil lebih baik daripada menggunakan dua mobil.
- Bawalah kantong belanjaan anda sendiri atau gunakan plastik bekas pakai ketika berbelanja.
- Belilah dalam jumlah besar jika memungkinkan, hal ini selain dapat menghemat pengepakan dapat juga menghemat uang.
- Jangan membeli air minum botolan jika anda yakin air keran anda aman dikonsumsi.
- Transportasi air dari sumbernya ke rak supermarket adalah pembuangan energi yang mahal. Apalagi, sampah botol gelas dan plastik yang kita hasilkan sudah sangat banyak.
- Belilah peralatan rumah tangga yang paling hemat energi yang dapat anda jangkau.
Hindari bahan kimia berbahaya
- Hindari pembelian sampo anti kutu yang mengandung pestisida
- Pilihlah produk pembersih yang biogradable sehingga bahan kiminanya hanya memberikan sedikit dampak pada sistem tanah dan air kita.
Gaya Hidup Hijau Saat Berkebun
Hemat air
- Jika mungkin, hindari penggunaan selang, kecuali diujung selang dipasang semprotan air untuk lebih menghemat air.
- Gunakan kaleng penyiram tanaman.
- Siramlah tanaman di sore hari agar air mudah meresap kedalam akar. Penyiraman pada siang hari hanya membuat air menguap percuma.
- Biarkan rumput di halaman tumbuh sedikit lebih tinggi – hal ini akan mengurangi konsumsi air.
- Gunakan air hujan untuk menyiram kebun.
Kurangi Sampah, Kurangi Pencemaran
- Jangan membakar sampah – karena dapat memproduksi bahan kimia berbahaya, serta menghasilkan karbon dioksida yang berkontribusi pada perubahan iklim.
- Upayakan penggunaan pupuk dan pestisida organik yang ramah lingkungan – selain dapat mengurangi polusi, produk organik lebih ramah terhadap hewan. Bahan kimia dari pupuk akan terkumpul di lautan dan dapat membahayakan keseimbangan lingkaran-kehidupan.
- Tanamlah tanaman anti penyakit dan anti hama.
- Gunakan tanaman untuk menolak serangga. Sebagian tumbuhan dan bunga – seperti zodia, sereh dapat mengusir serangan serangga.
Selalu hargai alam
- Percantik kebun Anda dengan keindahan bunga-bunga liar.
- Luangkan waktu menikmati keindahan alam bersama keluarga dan teman-teman.
- Dukunglah kehidupan liar di kebun dengan meletakkan sarang burung, membuat kolam dan menanam tanaman dan bunga liar sebanyak-banyaknya.
- Tanam jenis pohon lokal.
- Jangan petik bunga-bungaan, biarkan dia tetap mempercantik alam terbuka.
Gaya Hidup Hijau Saat Berlibur - Hemat energi, kurangi sampah dan polusi
- Hindari bepergian dengan pesawat udara jika memungkinkan – perjalanan udara memerlukan jumlah bahan bakar yang sangat besar dan dapat menimbulkan efek rumah kaca.
- Buanglah sampah secara bertanggung jawab – ini dapat berbahaya bagi kehidupan liar.
- Gunakan kembali handuk-handuk dan berpartisipasilah dalam setiap langkah penghematan yang dilakukan oleh hotel.
- Buanglah sampah sanitasi secara benar. Jangan membuang cotton buds, kondom, tampon dan plastik ke dalam toilet – atau anda akan menemukannya kembali di pantai saat kunjungan anda berikutnya.
- Ambil semua sampah rumah tangga di pantai – penyu seringkali terbunuh oleh sampah plastik yang seringkali keliru dianggap sebagai ubur-ubur oleh penyu. Banyak sampah berbahaya yang memerlukan waktu tahunan untuk diurai.
Hargai alam
- Jangan ikut berpartisipasi dalam kegiatan berburu atau memancing kecuali jika kegiatan tersebut bertujuan untuk ambil bagian dalam rencana pengelolaan yang lebih efektif.
- Jangan tergoda untuk menyentuh binatang/hewan liar dan menganggu habitat baik di darat, pantai maupun dalam laut.
- Berhati-hatilah saat memilih suvenir untuk dibawa pulang. Banyak spesies dari koral sampai gajah dan alligator terancam kepunahan karena mereka banyak diambil untuk suvenir.
- Kapal boat dan jet-ski menimbulkan polusi suara dan kimia yang akan mengganggu kehidupan liar – jangan biarkan mesin terus-terusan menyala jika tidak digunakan
- Jika anda berlayar, berselancar atau berselancar angin, jagalah jarak paling tidak 100m dari sarang anjing laut atau burung laut agar tidak menganggu mereka.
diramu dari berbagai sumber



